Senin, 22 Juli 2013

TUHAN SUMBER SEGALA
(THEOLOGI HINDU)


            Kita kadang-kadang bertanya dimanakah kita berada sebelum lahir dan kemanakah kita pergi setelah mati? Darimanakah asalnya segala yang ada ini dan kemanakah ia kembali. Kitab agama Hindu menyatakan :

Yathorna nabhih srjate grhnate ca
Yatha prthivyam osadhayas sambhavanti,
Yatha satah purusat kesalomani tathaksarat
Sambhavatiha visvam
(Mundaka Upanisad. I.7)
Terjemahan:

Seperti laba-laba mengeluarkan dan menarik benangnya, seperti tumbuh-tumbuhan bahan obat tumbuh di bumi, seperti rambut di kepala dan badan orang, demikianlah alam semesta ini muncul dari Tuhan.

Tuhan menyebabkan mata kita dapat melihat, telinga kita dapat mendengar, lidah kita dapat mengecap, hidung kita dapat membaui, kulit kita dapat merasakan rasa sentuhan dan pikiran kita dapat berpikir. Ia sumber hidup dan sumber tenaga, dan dari Dia lah asal segala yang ada ini dan kepada-Nya pula segala yang ada ini kembali. Karena itu ia disebut Sangkan Paraning Dumadi, asal dan kembalinya semua makhluk, mendukung kehidupan semua makhluk. Taittriya Upanisad menerangkan hal ini sebagai berikut:

Yato va imani bhutani jayante,
Yena jatani jivanti,
Yat prayanty abhisam visanti,
Tad vijijnasasva, tad brahmeti
(Taittiriya Upanisad.III.I.1)

Terjemahan :

Darimana semua yang ada ini lahir,
Dengan apa yang lahir ini hidup,
Kemana mereka masuk ketika kembali,
Ketahuilah, bahwa itu Tuhan

Dalam Sivatattva, Tuhan yang dipanggil sebagai Bhatara Siva, mencipta, memelihara dan mengembalikan alam ini.

Brahmas jayate lokam,
Visnuve palakasthitam,
Rudratve sambaras ceva
Trimurtih nama eva ca
(Bhuvanakosa)

Terjemahan :

Bhatara Brahma menciptakan alam ini,
Bhatara Visnu menjaga dan merawatnya,
Bhatara Rudra mengembalikan kepada asalnya,
Dan ini namanya Trimurti

Fungsi Tuhan waktu mencipta disebut Utpatti, waktu menjaga dan merawatnya disebut Sthiti dan mengembalikannya disebut pralina.

Utpati bhagavan brahma,
Sthiti visnuh tatthevaca,
Pralina bhagavan rudra,
Trayas trailoka saranah.
(Bhuvanakosa)

Terjemahan :

Mencipta Bhatara Brahma
Memelihara Bhatara Visnu
Mempralina Bhatara Rudra
Ketia-tiganya pelindung dunia tiga

Tidak ada apapun yang luput dari proses utpati, sthiti dan pralina kecuali Tuhan. Tuhan bersifat kekal abadi, bebas dari segala perubahan. Alam semesta muncul, hidup dan kemudian akan mengalami pralaya atau kiamat, hidup manusia akan demikian juga. Proses utpati, sthiti, pralina itu digambarkan orang dalam segitiga sama sisi disebut Trikona.
Tuhan hadir dimana-mana beliau bersifat vyapi-vyapaka, meresapi segala yang ada. Tidak ada satu tempatpun yang beliau tidak tempati. Beliau berada di sini dan di sana. Tuhan bersifat mahima, maha besar. Banyak sloka-sloka dalam kitab suci agama hindu menyebutkan hal ini. beberapa diantaranya sebagai berikut:

Sahasrasirsa purusah sahasraksah sahasrapat, sa bhumim visvato vrtva ‘tyatisthad dasangulam.
(Rg Veda X.90.1)

Terjemahan :

Tuhan berkepala seribu, bermata seribu, berkaku seribu, ia memenuhi bumi, bumi pada semua arah, mengatasi ke sepuluh penjuru.


Yo devo ‘gnau yo ‘psu
Yo visvam bhuvanam avivesa,
Yo osadhisu yo vanaspatisu tasmai
Devaya namo namah
(Svetasvataropaninad II.17)

Terjemahan :

Sujud kepada Tuhan yang ada di api, yang ada dalam air, yang meresapi seluruh alam semesta, yang ada dalam tumbuh-tumbuhan, yang ada dalam pohon-pohon kayu.

Seribu dalam mantra Veda di atas berarti tidak terhingga. Tuhan berkepala tak terhingga, bermata tak terhingga, bertangan tak terhingga. Semua kepala adalah kepalanya, semua mata adalah matanya, semua tangan adalah tangannya. Walaupun ia tidak dapat dilihat dengan mata, Ia dapat dirasakan kehadirannya pada segala dengan rasa hati. Di dalam kitab suci Chandogya Upanisad terdapat sebuah percakapan yang menarik tentang kehadiran Tuhan di mana-mana. Percakapan itu percakapan seorang ayah dengan seorang anak. Anak itu bernama Svetaketu, ayahnya bernama Uddhalaka. Sang anak selalu memohon agar ayahnya menerangkan hakekat Tuhan yang ingin ia ketahui. Sang ayah pun menerangkan dengan berbagai contoh yang mudah dimengerti. Salah satu percakapan itu adalah sebagai berikut
Lavanam etad udake ‘adhaya atha ma pratar upasidhata iti; sa ha tatha cakara; tam hovaca yad dosa lavanam udake ‘vadhah, anga tad ahareti, tad havamrsya na viveda; yatha vilinam, evam.

Terjemahan :

Masukkanlah garam itu ke dalam air ini dan datanglah kepadaku pagi hari, kemudian ia pun kerjakan demikian. Kemudia ia (ayah) berkata kepada anaknya: “garam yang engkau masukkan ke dalam air kemarin malam, bawalah kemari”. Ketika ia menengoknya ia tidak melihatnya lagi, karena sudah habis larut semuanya.

Angasyantad acameti: katham iti; lavanam iti; madhyad acameti, katham iti; laanam iti; antad acameti; katham iti; lavanam iti; abhiprasyaitad atha mopasidhata iti; tadd ha tatha cakara, tac chasvat samvartate; tam hovaca; atra vava kila sat, saumya, na nibhalayase, atraiva kila
(Chandoya Upanisad. VI. 13.1.2)

Terjemahan :

Silahkan cicipi dari ujung ini. ia berkata: bagaimana? “garam”
Silahkan cicipi dari tengah-tengah, bagaimana? “garam”
Masukkanlah kembali dan nanti datanglah kepadaku!
Ia kerjakan demikian. Hasilnya selalu sama, kemudia ia (ayah) berkata kepadanya (anaknya).
Sesungguhnya, sayangku, engkau tidak melihat Tuhan Yang Maha Esa ada di sini. Sesungguhnya Ia ada disini.

Demikianlah Tuhan diumpamakan seperti garam dalam air, ia tidak tampak, namun bila dicicipi terasa adanya disana. Di dalam Svetasvatara Upanisad, Tuhan diumpamakan sebagai api dalam kayu. Walaupun kehadirannya seolah-olah tidak ada, tapi bila berada dimana-mana ia mengetahui segala. Tidak ada suatu apapun yang tidak ia ketahui, tidak ada apapn yang dapat disembunyikan dari-Nya. Ia adalah saksi agung akan segala yang ada, saksi agung gerak-gerik manusia.

Eko devas sarva-bhutesu gudhas sarva
Vyapi sarva bhutantar-atma
Karmadhyaksas sarvabhutadhivasas saksi ceta
Kevalo nirgunasca
(svetasvatara Upanisad.VI.11)

Terjemahan :

Tuhan yang tunggal sembunyi pada semua makhluk, menyusupi segala, inti hidupnya semua makhluk, hakim smeua perbuatan yang berada pada semua makhluk, saksi yang mengetahui, yang tunggal bebas dari kualitas apapun.

Karena demikian sifat Tuhan maka orang tidak dapat lari kemanapun untuk menyembunyikan perbuatannya. Kemanapun berlari akan selalu berjumpa dengan dia. Tiada tempat sepi yang luput dari kehadirannya. Alam semesta ini tunduk pada satu hukum yang berlaku baginya. Hukum itu disebut rta. Bila ada dua rta, mungkin saja alam semesta ini akan berbenturan karena antara rta yang satu dan rta yang lainnya berbenturan. Kenyataannya badan-badan angkasa beredar dengan teratur dan harmonis. Karena itu rta harus satu. Tuhan adalah pendukung rta itu, Ia disebut Rtavan. Karena rta hanya satu maka rtavan pun hanya satu. Tuhan hanya satu, kitab suci Veda, Upanisad dan lain-lainnya menyatakan demikian :

-          Ya etam devam ekavrtam veda,
-          Na dvitiyo na trtiyas caturtho napyucyate,
-          Na pancamo na sasthah saptamo napyucyate,
-          Nastamo na navamo dasamo napyucyate,
-          Sa sarvasmai vi pasyati yacca pranati yacca na,
-          Tamidam nigatam sahah sa esa eka ekavrd eka eva, sarve asmin deva ekavrto bhavanti
  (Atharva Veda XIII.4.15-21)

Terjemahan :
Kepada Ia yang mengetahui ini Tuhan semata-mata hanya tunggal,
Tidak ada yang kedua, ketiga, keempat, ia dipanggil,
Tidak ada yang kelima, keenam, ketujuh, ia dipanggil.
Ia melihat segala apa yang bernapas dan apa yang tidak bernapas.
Kepada-Nya lah tenaga penakluk kembali, ia hanya tunggal. Tunggal belaka, padanya semua Deva hanya satu saja.

Ekam eva advitiyam brahma
(Chadogya Upanisad IV.2.1)

Terjemahan :

Tuhan hanya satu tidak ada yang kedua.

Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Kuasa, yang tak terjangkau oleh pikiran, yang gaib yang dipanggil dengan berbagai nama sesuai dengan jangkauan pikiran. maka Tuhan yang tidak berpribadi menjadi berpribadi.

Indram mitram varunam
Agnim ahur atho,
Divyah sa suparno garutman
Ekam sad viprah bahudha vadantyagim
Yamam matarisvanam ahuh

Terjemahan :

Mereka menyebut Indra, Mitra, Varuna, Agni dan Dia Yang bercahaya, yaitu Garutman yang bersayap elok, satu itu (Tuhan) sang bijaksana menyebut dengan banyak nama, seperti Agni, Yama, Matarisvan.

Tuhan Yang Maha Esa dipanggil dengan banyak nama namun Ia hanya satu. Sering kali dikatakan Ia mempunyai seribu nama.

Puja Trisandhya menyatakan demikian:

Tvam sivah tvam mahadevah
Isvarah paramesvarah
Brahma visnuca rudrasca
Purusah parikirtitah

Terjemahan :

Engkau dipanggil Siva, Mahadeva Paramesvara,
Brahma, Visnu, Rudra dan Purusa.

Dalam kehidupan beragama sehari-hari panggilan-Nya banyak sekali. Umat Hindu memanggilnya Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha kuasa.






sumber: Buku pendidikan Agama hindu