TUHAN SUMBER SEGALA
(THEOLOGI HINDU)
Kita kadang-kadang bertanya
dimanakah kita berada sebelum lahir dan kemanakah kita pergi setelah mati? Darimanakah
asalnya segala yang ada ini dan kemanakah ia kembali. Kitab agama Hindu
menyatakan :
Yathorna nabhih srjate grhnate ca
Yatha prthivyam osadhayas
sambhavanti,
Yatha satah purusat kesalomani
tathaksarat
Sambhavatiha visvam
(Mundaka
Upanisad. I.7)
Terjemahan:
Seperti
laba-laba mengeluarkan dan menarik benangnya, seperti tumbuh-tumbuhan bahan
obat tumbuh di bumi, seperti rambut di kepala dan badan orang, demikianlah alam
semesta ini muncul dari Tuhan.
Tuhan menyebabkan mata kita dapat
melihat, telinga kita dapat mendengar, lidah kita dapat mengecap, hidung kita
dapat membaui, kulit kita dapat merasakan rasa sentuhan dan pikiran kita dapat
berpikir. Ia sumber hidup dan sumber tenaga, dan dari Dia lah asal segala yang
ada ini dan kepada-Nya pula segala yang ada ini kembali. Karena itu ia disebut
Sangkan Paraning Dumadi, asal dan kembalinya semua makhluk, mendukung kehidupan
semua makhluk. Taittriya Upanisad menerangkan hal ini sebagai berikut:
Yato va imani bhutani jayante,
Yena jatani jivanti,
Yat prayanty abhisam visanti,
Tad vijijnasasva, tad brahmeti
(Taittiriya
Upanisad.III.I.1)
Terjemahan
:
Darimana
semua yang ada ini lahir,
Dengan
apa yang lahir ini hidup,
Kemana
mereka masuk ketika kembali,
Ketahuilah,
bahwa itu Tuhan
Dalam Sivatattva, Tuhan yang dipanggil
sebagai Bhatara Siva, mencipta, memelihara dan mengembalikan alam ini.
Brahmas jayate lokam,
Visnuve palakasthitam,
Rudratve sambaras ceva
Trimurtih nama eva ca
(Bhuvanakosa)
Terjemahan
:
Bhatara
Brahma menciptakan alam ini,
Bhatara
Visnu menjaga dan merawatnya,
Bhatara
Rudra mengembalikan kepada asalnya,
Dan
ini namanya Trimurti
Fungsi Tuhan waktu mencipta disebut
Utpatti, waktu menjaga dan merawatnya disebut Sthiti dan mengembalikannya
disebut pralina.
Utpati bhagavan brahma,
Sthiti visnuh tatthevaca,
Pralina bhagavan rudra,
Trayas trailoka saranah.
(Bhuvanakosa)
Terjemahan
:
Mencipta
Bhatara Brahma
Memelihara
Bhatara Visnu
Mempralina
Bhatara Rudra
Ketia-tiganya
pelindung dunia tiga
Tidak ada apapun yang luput dari proses
utpati, sthiti dan pralina kecuali Tuhan. Tuhan bersifat kekal abadi, bebas
dari segala perubahan. Alam semesta muncul, hidup dan kemudian akan mengalami
pralaya atau kiamat, hidup manusia akan demikian juga. Proses utpati, sthiti,
pralina itu digambarkan orang dalam segitiga sama sisi disebut Trikona.
Tuhan hadir dimana-mana beliau bersifat
vyapi-vyapaka, meresapi segala yang ada. Tidak ada satu tempatpun yang beliau
tidak tempati. Beliau berada di sini dan di sana. Tuhan bersifat mahima, maha
besar. Banyak sloka-sloka dalam kitab suci agama hindu menyebutkan hal ini.
beberapa diantaranya sebagai berikut:
Sahasrasirsa purusah sahasraksah
sahasrapat, sa bhumim visvato vrtva ‘tyatisthad dasangulam.
(Rg
Veda X.90.1)
Terjemahan
:
Tuhan
berkepala seribu, bermata seribu, berkaku seribu, ia memenuhi bumi, bumi pada
semua arah, mengatasi ke sepuluh penjuru.
Yo devo ‘gnau yo ‘psu
Yo visvam bhuvanam avivesa,
Yo osadhisu yo vanaspatisu tasmai
Devaya namo namah
(Svetasvataropaninad
II.17)
Terjemahan
:
Sujud
kepada Tuhan yang ada di api, yang ada dalam air, yang meresapi seluruh alam
semesta, yang ada dalam tumbuh-tumbuhan, yang ada dalam pohon-pohon kayu.
Seribu dalam mantra Veda di atas berarti
tidak terhingga. Tuhan berkepala tak terhingga, bermata tak terhingga,
bertangan tak terhingga. Semua kepala adalah kepalanya, semua mata adalah
matanya, semua tangan adalah tangannya. Walaupun ia tidak dapat dilihat dengan
mata, Ia dapat dirasakan kehadirannya pada segala dengan rasa hati. Di dalam
kitab suci Chandogya Upanisad terdapat sebuah percakapan yang menarik tentang
kehadiran Tuhan di mana-mana. Percakapan itu percakapan seorang ayah dengan
seorang anak. Anak itu bernama Svetaketu, ayahnya bernama Uddhalaka. Sang anak
selalu memohon agar ayahnya menerangkan hakekat Tuhan yang ingin ia ketahui. Sang
ayah pun menerangkan dengan berbagai contoh yang mudah dimengerti. Salah satu
percakapan itu adalah sebagai berikut
Lavanam etad udake ‘adhaya atha ma
pratar upasidhata iti; sa ha tatha cakara; tam hovaca yad dosa lavanam udake ‘vadhah,
anga tad ahareti, tad havamrsya na viveda; yatha vilinam, evam.
Terjemahan
:
Masukkanlah
garam itu ke dalam air ini dan datanglah kepadaku pagi hari, kemudian ia pun
kerjakan demikian. Kemudia ia (ayah) berkata kepada anaknya: “garam yang engkau
masukkan ke dalam air kemarin malam, bawalah kemari”. Ketika ia menengoknya ia
tidak melihatnya lagi, karena sudah habis larut semuanya.
Angasyantad acameti: katham iti;
lavanam iti; madhyad acameti, katham iti; laanam iti; antad acameti; katham
iti; lavanam iti; abhiprasyaitad atha mopasidhata iti; tadd ha tatha cakara,
tac chasvat samvartate; tam hovaca; atra vava kila sat, saumya, na nibhalayase,
atraiva kila
(Chandoya
Upanisad. VI. 13.1.2)
Terjemahan
:
Silahkan
cicipi dari ujung ini. ia berkata: bagaimana? “garam”
Silahkan
cicipi dari tengah-tengah, bagaimana? “garam”
Masukkanlah
kembali dan nanti datanglah kepadaku!
Ia
kerjakan demikian. Hasilnya selalu sama, kemudia ia (ayah) berkata kepadanya
(anaknya).
Sesungguhnya,
sayangku, engkau tidak melihat Tuhan Yang Maha Esa ada di sini. Sesungguhnya Ia
ada disini.
Demikianlah Tuhan diumpamakan seperti
garam dalam air, ia tidak tampak, namun bila dicicipi terasa adanya disana. Di dalam
Svetasvatara Upanisad, Tuhan diumpamakan sebagai api dalam kayu. Walaupun kehadirannya
seolah-olah tidak ada, tapi bila berada dimana-mana ia mengetahui segala. Tidak
ada suatu apapun yang tidak ia ketahui, tidak ada apapn yang dapat
disembunyikan dari-Nya. Ia adalah saksi agung akan segala yang ada, saksi agung
gerak-gerik manusia.
Eko devas sarva-bhutesu gudhas
sarva
Vyapi sarva bhutantar-atma
Karmadhyaksas sarvabhutadhivasas
saksi ceta
Kevalo nirgunasca
(svetasvatara
Upanisad.VI.11)
Terjemahan
:
Tuhan
yang tunggal sembunyi pada semua makhluk, menyusupi segala, inti hidupnya semua
makhluk, hakim smeua perbuatan yang berada pada semua makhluk, saksi yang
mengetahui, yang tunggal bebas dari kualitas apapun.
Karena demikian sifat Tuhan maka orang
tidak dapat lari kemanapun untuk menyembunyikan perbuatannya. Kemanapun berlari
akan selalu berjumpa dengan dia. Tiada tempat sepi yang luput dari
kehadirannya. Alam semesta ini tunduk pada satu hukum yang berlaku baginya. Hukum
itu disebut rta. Bila ada dua rta, mungkin saja alam semesta ini akan
berbenturan karena antara rta yang satu dan rta yang lainnya berbenturan. Kenyataannya
badan-badan angkasa beredar dengan teratur dan harmonis. Karena itu rta harus
satu. Tuhan adalah pendukung rta itu, Ia disebut Rtavan. Karena rta hanya satu
maka rtavan pun hanya satu. Tuhan hanya satu, kitab suci Veda, Upanisad dan
lain-lainnya menyatakan demikian :
-
Ya
etam devam ekavrtam veda,
-
Na
dvitiyo na trtiyas caturtho napyucyate,
-
Na
pancamo na sasthah saptamo napyucyate,
-
Nastamo
na navamo dasamo napyucyate,
-
Sa
sarvasmai vi pasyati yacca pranati yacca na,
-
Tamidam
nigatam sahah sa esa eka ekavrd eka eva, sarve asmin deva ekavrto bhavanti
(Atharva
Veda XIII.4.15-21)
Terjemahan
:
Kepada Ia yang mengetahui ini Tuhan semata-mata
hanya tunggal,
Tidak ada yang kedua, ketiga, keempat, ia dipanggil,
Tidak ada yang kelima, keenam, ketujuh, ia
dipanggil.
Ia melihat segala apa yang bernapas dan apa yang
tidak bernapas.
Kepada-Nya lah tenaga penakluk kembali, ia hanya
tunggal. Tunggal belaka, padanya semua Deva hanya satu saja.
Ekam
eva advitiyam brahma
(Chadogya Upanisad
IV.2.1)
Terjemahan
:
Tuhan hanya satu tidak ada yang kedua.
Tuhan
Yang Maha Esa, Yang Maha Kuasa, yang tak terjangkau oleh pikiran, yang gaib
yang dipanggil dengan berbagai nama sesuai dengan jangkauan pikiran. maka Tuhan
yang tidak berpribadi menjadi berpribadi.
Indram
mitram varunam
Agnim
ahur atho,
Divyah
sa suparno garutman
Ekam
sad viprah bahudha vadantyagim
Yamam
matarisvanam ahuh
Terjemahan
:
Mereka menyebut Indra, Mitra, Varuna, Agni dan Dia
Yang bercahaya, yaitu Garutman yang bersayap elok, satu itu (Tuhan) sang
bijaksana menyebut dengan banyak nama, seperti Agni, Yama, Matarisvan.
Tuhan
Yang Maha Esa dipanggil dengan banyak nama namun Ia hanya satu. Sering kali
dikatakan Ia mempunyai seribu nama.
Puja
Trisandhya menyatakan demikian:
Tvam sivah tvam mahadevah
Isvarah paramesvarah
Brahma visnuca rudrasca
Purusah parikirtitah
Terjemahan
:
Engkau
dipanggil Siva, Mahadeva Paramesvara,
Brahma,
Visnu, Rudra dan Purusa.
Dalam
kehidupan beragama sehari-hari panggilan-Nya banyak sekali. Umat Hindu
memanggilnya Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha kuasa.
sumber: Buku pendidikan Agama hindu