ALAM
SEMESTA DAN ISINYA
(PERSPEKTIF
AGAMA HINDU)
Asal mula Alam Semesta
Alam semesta atau jagat raya ini
dahulu kala pernah tidak ada, lalu ada kemudian tidak ada lagi dan demikian
seterusnya berulang-ulang kali. Pada saat alam ini meng-ada disebut srsti atau
Brahma Diva (siang hari Brahma) dan
ketika alam ini meniada disebut
pralaya atau brahma Nakta (malam hari Brahma disebut satu hari Brahma atau satu
kalpa). Proses (peristiwa) mengadakan alam ini berlangsung secara berjenjang
dari jenjang yang teramat gaib/halus sampai pada jenjang yang tampak
berwujud/kasar.
Adapun prosesnya demikian, ketika
tidak ada apa-apa, yang ada hanyalah Tuhan Paramasiva atau Nirguna Brahma yang
berwujud sunyi sepi, kosong dan hampa. Kemudian Tuhan Paramasiva/Niguna Brahma
menjadikan diri-Nya Sadasiva atau saguna Brahma. Pada jenjang ini Tuhan telah
menjadi/berwjud/berbadan Purusa dan Prakrti. Purusa adala unsur dasar yang
bersifat kejiwaan, sedangkan Prakrti adalah unsur dasar yang bersifat
kebendaan. Baik Purusa dan Prakrti sifat kedua-duanya tidak dapat diamati dan
tanpa permulaan, seperti dijelaskan dalam Bhagavad Gita berikut ini:
Prakrtim
purusam caiva viddhy anadi ubhav api,
Vikarams
ca gunams caiva viddhi prakrti-sambhavan
Artinya
:
Ketahuilah bahwa Prakrti dan Purusa kedua-duanya adalah tanpa
permulaan, dan diketahui juga bahwa segala bentuk dan ketiga guna lahir dai
Prakrti.
Purusa dan Prakrti inilah kemudian
bekerjasama yang menyebabkan adanya alam semesta ini, secara
bertingkat/berjenjang. Kerjasama Purusa dan Prakrti ini dilukiskan sebagai
kerjasama antara seseorang yang melek tapi lumpuh dengan seseorang yang kuat
namun buta. Dengan kerjasamanya itulah mereka baru bisa melakukan atau membuat
sesuatu. Prakrti merupakan aza kebendaan, memiliki triguna, yaitu: Sattva,
Rajas dan Tamas. Sattva sifat dasarnya adalah terang dan menerangi. Rajas sifat
dasarnya adalah aktif dan dinamis sedangkan Tamas sifat dasarnya adalah gelap
dan berat. Akibat adanya kerjasama Purusa dan Prakrti ini menyebabkan kekuatan
Triguna ini dapat berimbang. Pertama-tama kekuatan Sattva yang lebih besar dari
Rajas dan Tamas maka lahirlah yang disebut Mahat yang berarti yang agung; dari
Mahat ini muncullah Budhi. Budhi adalah azas atau benih kejiwaan tertinggi,
fungsinya adalah untuk menentukan keputusan. Budhi sifatnya Sattva, hingga
keputusannya tentu bersifat bijaksana. Selanjutnya dari Budhi lahirlah Ahamkara
yaitu azas kedirian (individualisasi). Fungsinya adalah untuk merasakan.
Kemudian dari hamkara ini lahirlah manas yaitu akal atau pikiran yang berfungsi
untuk berpikir. Dari Manas selanjutnya lahir panca Tanmatra, yaitu lima unsur
yang halus :
1. Sabda
Tanmatra (sari suara)
2.
Sparsa Tanmatra (sari rabaan)
3.
Rupa Tanmatra (sari warna)
4.
Rasa Tanmatra (sari rasa)
5.
Gandha Tanmatra (sari bau)
Perkembangan
selanjutnya dari Panca Tanmatra adalah Panca Mahabutha, yaitu lima unsur kasar
yang terdiri dari:
1. Akasa (ether atau ruang)
2.
Vayu (hawa
atau udara)
3.
Teja (api)
4.
Apah (air)
5. Prthivi (tanah)
Panca
Mahabhuta inilah kemudian berkembang menjadi alam semesta ini dengan segala
isinya, seperti matahari, bumi, bulan, planet yang disebut Brahmanda. Demikian
juga gunung-gunung, sungai-sungai, pohon, bintang dan juga manusia serta yang
lainnya. Jadi jelaslah bahwa alam semesta ini beserta segala isinya lahir dan
mengalir dari tubuh Tuhan hingga pada saatnya nanti akan kembali lagi kedalam
tubuh-Nya yang sunyi. Demikian dinyatakan dalam Bhuvana kosa:
Mankana pwa Bhatara Siwa irikan
tattwa kabeh, ri wkasan lina rin sira mwah, nihan drtopamanya kadyanga nin
wereh makweh mijilnya tungal ya saken wwai
(Bhuvana Kosa. Ip.22b)
Artinya
:
Demikianlah
halnya Bhatara Siva (Tuhan), keberadaan-Nya pada segala makhluk, pada akhirnya
akan kembali pula kepada-Nya, demikian umpamanya, bagaikan buih banyak
timbulnya, tunggallah itu asalnya dari air.
Asal Mula Manusia dan
Unsur-Unsurnya
Asal mula manusia dan alam semesta
ini hakekatnya sama, yaitu berasal dari Purusa dan Prakrti. Maka itu alam
semesta ini lazim disebut Bhuana Agung, sedangkan diri manusia disebut Bhuana
Alit. Pada diri manusia unsur Purusa itu menjadi Jivatma, sedangkan unsur
Prakrti menjadi badan kasar atau Sthula Sarira. Suksma Sarira juga disebut
Linga Sarira dan Sthula Sarira juga disebut Raga Sarira. Suksma Sarira/Linga
Sarira terjadi dari Buddhi, Manas, Ahamkara yang disebut Tri Antah Karana (tiga
penyebab akhir) dengan masing-masing fungsinya sebagai berikut:
1. Buddhi
berfungsi untuk menentukan keputusan
2.
Manas berfungsi untk berpikir
3. Ahamkara
berfungsi untuk merasakan atau bertindak
Tri Antah Karana inlah merupakan alat
batin manusia yang sangat menentukan watak atau karakter seseorang. Indriya
manusia ada sepuluh banyaknya sehingga disebut Dasendriya yang terdiri dari dua
bagian yaitu:
1. Panca
Buddhindriya yaitu lima indriya yang mengetahui, terdiri dari:
Ø Caksvindriya - indriya pada mata
Ø Srotendriya - indriya pada telinga
Ø Ghranendriya - indriya pada hidung
Ø Jihvendriya - indriya pada lidah
Ø Tvakindriya - indriya pada kulit
2.
Panca Karmendriya yaitu lima indriya
pelaku, terdiri atas:
Ø Panindriya - indriya pada tangan
Ø Padendriya - indriya pada kaki
Ø Garbhendriya - indriya pada perut
Ø Upasthendriya - indriya pada kelamin laki-laki
Bhagendriya - indriya pada kelamin perempuan
Ø Payvindriya - indriya pada pelepasan/anus
Ada
pula yang menyebutkan bahwa Vakindriya yaitu indriya pada mulut termasuk
kelompok indriya ini pengganti dari Garbhendriya. Manas dis sampping
berkedudukan sebagai anggota Tri Antahkarana, juga berkedudukan sebagai
Rajendriya yaitu raja dari indriya, karena semua indriya itu berpusat pada
pikiran manusia. indriya-indriya ini semuanya tidak dapat diamati, akan tetapi
berada pada alat-alat yang tampak. Sthula Sarira, Raga Sarira yang terjadi dari
panca Tanmatra atau Panca Mahabhuta itu urainnya sebagai berikut:
1)
Tulang belulang, otot, daging dan segala
yang padat sifatnya terjadi dari gandha atau prthivi.
2)
Darah, lemak, kelenjar, empedu, air
badan dan segala yang cair sifatnya terjadi dari rasa atau apah.
3)
Panas badan, sinar mata dan segala yang
panas dan bercahaya sifatnya terjadi dari rupa atau teja.
4)
Napas atau udara dalam badan terjadi
dari sparsa atau vayu.
5)
Rongga dada, rongga mulut dan segala
rongga lainnya terjadi dari sabda dan akasa.
Dalam hubungannya
dengan sthula sarira/badan kasar manusia disebutkan adanya unsur-unsur antara
lain sebagai berikut:
·
Sad Kosa yaitu enam lapis pembungkus,
yang terdiri dari:
(1) Asti/Tavulan : tulang
(2) Odvad : otot
(3) Sumsum : sumsum
(4) Mamsa : daging
(5) Rudhira : darah
(6) Carma : kulit
·
Dasa Bayu atau Dasa Prana, yaitu sepuluh
macam udara dalam badan manusia, yang terdiri dari:
(1) Prana : udara pada paru-paru
(2) Samana : udara pada pencernaan
(3) Apana : udara pada pantat
(4) Udana : udara pada
kerongkongan
(5) Vyana : udara yang menyebar ke seluruh
tubuh
(6) Naga : udara pada perut yang keluar
pada saat perut mengempis
(7) Kurmara : udara yang keluar dari badan oleh
tangan dan kaki
(8) Krkara : udara pada saat bersin
(9) Devadatta : udara saat menguap
(10) Dananjaya : udara yang memberi makan pada badan
Sedangkan yang mempunyai hubungan dengan
Suksma Sarira/badan halus manusia antara lain: Panca Kosa yaitu lima lapis
pembungkus dari badan halus manusia, yang terdiri dari:
(1) Annamaya
Kosa : badan dari sari makanan
(2)
Pranamaya Kosa : badan dari sari nafas
(3)
Manomaya Kosa : badan dari sari pikiran
(4)
Vijnanamaya Kosa : badan dari sari pengetahuan
(5) Anandamaya
Kosa : badan dari kebahagiaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar