Senin, 22 Juli 2013

ALAM SEMESTA DAN ISINYA
(PERSPEKTIF AGAMA HINDU)


Asal mula Alam Semesta
            Alam semesta atau jagat raya ini dahulu kala pernah tidak ada, lalu ada kemudian tidak ada lagi dan demikian seterusnya berulang-ulang kali. Pada saat alam ini meng-ada disebut srsti atau Brahma Diva (siang hari Brahma) dan ketika alam ini meniada disebut pralaya atau brahma Nakta (malam hari Brahma disebut satu hari Brahma atau satu kalpa). Proses (peristiwa) mengadakan alam ini berlangsung secara berjenjang dari jenjang yang teramat gaib/halus sampai pada jenjang yang tampak berwujud/kasar.
            Adapun prosesnya demikian, ketika tidak ada apa-apa, yang ada hanyalah Tuhan Paramasiva atau Nirguna Brahma yang berwujud sunyi sepi, kosong dan hampa. Kemudian Tuhan Paramasiva/Niguna Brahma menjadikan diri-Nya Sadasiva atau saguna Brahma. Pada jenjang ini Tuhan telah menjadi/berwjud/berbadan Purusa dan Prakrti. Purusa adala unsur dasar yang bersifat kejiwaan, sedangkan Prakrti adalah unsur dasar yang bersifat kebendaan. Baik Purusa dan Prakrti sifat kedua-duanya tidak dapat diamati dan tanpa permulaan, seperti dijelaskan dalam Bhagavad Gita berikut ini:

            Prakrtim purusam caiva viddhy anadi ubhav api,
Vikarams ca gunams caiva viddhi prakrti-sambhavan
Artinya :
            Ketahuilah bahwa Prakrti  dan Purusa kedua-duanya adalah tanpa permulaan, dan diketahui juga bahwa segala bentuk dan ketiga guna lahir dai Prakrti.

Purusa dan Prakrti inilah kemudian bekerjasama yang menyebabkan adanya alam semesta ini, secara bertingkat/berjenjang. Kerjasama Purusa dan Prakrti ini dilukiskan sebagai kerjasama antara seseorang yang melek tapi lumpuh dengan seseorang yang kuat namun buta. Dengan kerjasamanya itulah mereka baru bisa melakukan atau membuat sesuatu. Prakrti merupakan aza kebendaan, memiliki triguna, yaitu: Sattva, Rajas dan Tamas. Sattva sifat dasarnya adalah terang dan menerangi. Rajas sifat dasarnya adalah aktif dan dinamis sedangkan Tamas sifat dasarnya adalah gelap dan berat. Akibat adanya kerjasama Purusa dan Prakrti ini menyebabkan kekuatan Triguna ini dapat berimbang. Pertama-tama kekuatan Sattva yang lebih besar dari Rajas dan Tamas maka lahirlah yang disebut Mahat yang berarti yang agung; dari Mahat ini muncullah Budhi. Budhi adalah azas atau benih kejiwaan tertinggi, fungsinya adalah untuk menentukan keputusan. Budhi sifatnya Sattva, hingga keputusannya tentu bersifat bijaksana. Selanjutnya dari Budhi lahirlah Ahamkara yaitu azas kedirian (individualisasi). Fungsinya adalah untuk merasakan. Kemudian dari hamkara ini lahirlah manas yaitu akal atau pikiran yang berfungsi untuk berpikir. Dari Manas selanjutnya lahir panca Tanmatra, yaitu lima unsur yang halus :
1.      Sabda Tanmatra          (sari suara)
2.      Sparsa Tanmatra         (sari rabaan)
3.      Rupa Tanmatra            (sari warna)
4.      Rasa Tanmatra            (sari rasa)
5.      Gandha Tanmatra        (sari bau)

Perkembangan selanjutnya dari Panca Tanmatra adalah Panca Mahabutha, yaitu lima unsur kasar yang terdiri dari:
1.      Akasa              (ether atau ruang)
2.      Vayu               (hawa atau udara)
3.      Teja                 (api)
4.      Apah               (air)
5.      Prthivi             (tanah)
Panca Mahabhuta inilah kemudian berkembang menjadi alam semesta ini dengan segala isinya, seperti matahari, bumi, bulan, planet yang disebut Brahmanda. Demikian juga gunung-gunung, sungai-sungai, pohon, bintang dan juga manusia serta yang lainnya. Jadi jelaslah bahwa alam semesta ini beserta segala isinya lahir dan mengalir dari tubuh Tuhan hingga pada saatnya nanti akan kembali lagi kedalam tubuh-Nya yang sunyi. Demikian dinyatakan dalam Bhuvana kosa:

Mankana pwa Bhatara Siwa irikan tattwa kabeh, ri wkasan lina rin sira mwah, nihan drtopamanya kadyanga nin wereh makweh mijilnya tungal ya saken wwai
  (Bhuvana Kosa. Ip.22b)

Artinya :
Demikianlah halnya Bhatara Siva (Tuhan), keberadaan-Nya pada segala makhluk, pada akhirnya akan kembali pula kepada-Nya, demikian umpamanya, bagaikan buih banyak timbulnya, tunggallah itu asalnya dari air.



Asal Mula Manusia dan Unsur-Unsurnya
            Asal mula manusia dan alam semesta ini hakekatnya sama, yaitu berasal dari Purusa dan Prakrti. Maka itu alam semesta ini lazim disebut Bhuana Agung, sedangkan diri manusia disebut Bhuana Alit. Pada diri manusia unsur Purusa itu menjadi Jivatma, sedangkan unsur Prakrti menjadi badan kasar atau Sthula Sarira. Suksma Sarira juga disebut Linga Sarira dan Sthula Sarira juga disebut Raga Sarira. Suksma Sarira/Linga Sarira terjadi dari Buddhi, Manas, Ahamkara yang disebut Tri Antah Karana (tiga penyebab akhir) dengan masing-masing fungsinya sebagai berikut:
1.      Buddhi berfungsi untuk menentukan keputusan
2.      Manas berfungsi untk berpikir
3.      Ahamkara berfungsi untuk merasakan atau bertindak

Tri Antah Karana inlah merupakan alat batin manusia yang sangat menentukan watak atau karakter seseorang. Indriya manusia ada sepuluh banyaknya sehingga disebut Dasendriya yang terdiri dari dua bagian yaitu:
1.      Panca Buddhindriya yaitu lima indriya yang mengetahui, terdiri dari:
Ø  Caksvindriya        - indriya pada mata
Ø  Srotendriya          - indriya pada telinga
Ø  Ghranendriya       - indriya pada hidung
Ø  Jihvendriya           - indriya pada lidah
Ø  Tvakindriya          - indriya pada kulit

2.      Panca Karmendriya yaitu lima indriya pelaku, terdiri atas:
Ø  Panindriya            - indriya pada tangan
Ø  Padendriya           - indriya pada kaki
Ø  Garbhendriya       - indriya pada perut
Ø  Upasthendriya      - indriya pada kelamin laki-laki
Bhagendriya       - indriya pada kelamin perempuan
Ø  Payvindriya          - indriya pada pelepasan/anus

            Ada pula yang menyebutkan bahwa Vakindriya yaitu indriya pada mulut termasuk kelompok indriya ini pengganti dari Garbhendriya. Manas dis sampping berkedudukan sebagai anggota Tri Antahkarana, juga berkedudukan sebagai Rajendriya yaitu raja dari indriya, karena semua indriya itu berpusat pada pikiran manusia. indriya-indriya ini semuanya tidak dapat diamati, akan tetapi berada pada alat-alat yang tampak. Sthula Sarira, Raga Sarira yang terjadi dari panca Tanmatra atau Panca Mahabhuta itu urainnya sebagai berikut:
1)     Tulang belulang, otot, daging dan segala yang padat sifatnya terjadi dari gandha atau prthivi.
2)     Darah, lemak, kelenjar, empedu, air badan dan segala yang cair sifatnya terjadi dari rasa atau apah.
3)     Panas badan, sinar mata dan segala yang panas dan bercahaya sifatnya terjadi dari rupa atau teja.
4)     Napas atau udara dalam badan terjadi dari sparsa atau vayu.
5)     Rongga dada, rongga mulut dan segala rongga lainnya terjadi dari sabda dan akasa.

Dalam hubungannya dengan sthula sarira/badan kasar manusia disebutkan adanya unsur-unsur antara lain sebagai berikut:
·         Sad Kosa yaitu enam lapis pembungkus, yang terdiri dari:
(1)   Asti/Tavulan   : tulang
(2)   Odvad                        : otot
(3)   Sumsum         : sumsum
(4)   Mamsa            : daging
(5)   Rudhira          : darah
(6)   Carma             : kulit

·         Dasa Bayu atau Dasa Prana, yaitu sepuluh macam udara dalam badan manusia, yang terdiri dari:
(1)   Prana              : udara pada paru-paru
(2)   Samana           : udara pada pencernaan
(3)   Apana             : udara pada pantat
(4)   Udana                        : udara pada kerongkongan
(5)   Vyana             : udara yang menyebar ke seluruh tubuh
(6)   Naga               : udara pada perut yang keluar pada saat perut mengempis
(7)   Kurmara         : udara yang keluar dari badan oleh tangan dan kaki
(8)   Krkara            : udara pada saat bersin
(9)   Devadatta      : udara saat menguap
(10)  Dananjaya     : udara yang memberi makan pada badan

Sedangkan yang mempunyai hubungan dengan Suksma Sarira/badan halus manusia antara lain: Panca Kosa yaitu lima lapis pembungkus dari badan halus manusia, yang terdiri dari:
(1)   Annamaya Kosa          : badan dari sari makanan
(2)   Pranamaya Kosa         : badan dari sari nafas
(3)   Manomaya Kosa         : badan dari sari pikiran
(4)   Vijnanamaya Kosa      : badan dari sari pengetahuan
(5)   Anandamaya Kosa      : badan dari kebahagiaan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar